Kekerasan Seksual: Mengapa dan Bagaimana Itu Terjadi?

Kekerasan Seksual: Mengapa dan Bagaimana Itu Terjadi?
Ilustrasi kekerasan seksual. (nukaltim.id)
930 x 180 AD PLACEMENT

Kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja dan bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin atau usia. Semua bentuk kontak seksual yang tidak diinginkan masuk dalam kategori kekerasan seksual, mulai dari perkataan hingga tindakan yang bertentangan dengan keinginan dan persetujuan seseorang.

Penyebab Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual sering kali berakar dari norma-norma sosial yang membenarkan kekerasan, penggunaan kekuasaan, dan konstruksi tradisional maskulinitas. Berikut beberapa faktor yang berkontribusi:

  • Norma sosial yang membenarkan kekerasan
  • Penggunaan kekuasaan atas orang lain
  • Konstruksi tradisional maskulinitas
  • Sikap diam terhadap kekerasan dan pelecehan

Penindasan dalam bentuk apapun adalah salah satu akar penyebab kekerasan seksual. Kekerasan seksual bukanlah peristiwa acak; ini adalah pola perilaku yang didukung oleh sistem penindasan dan ketidakseimbangan kekuasaan.

Jenis-Jenis Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual bisa berbentuk:

930 x 180 AD PLACEMENT
  • Verbal
  • Nonfisik
  • Fisik
  • Daring atau melalui teknologi informasi

Menurut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, kekerasan seksual tidak hanya terbatas pada pemerkosaan. Contohnya mencakup perilaku seperti:

  • Mengucapkan atau melakukan tindakan yang mendiskriminasi atau melecehkan penampilan fisik, tubuh, atau identitas gender seseorang, seperti lelucon seksis atau sikap tidak sopan.
  • Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, atau menggosokkan bagian tubuh pribadi seseorang tanpa izin.
  • Mengirimkan materi berupa lelucon, foto, video, atau audio bernuansa seksual tanpa persetujuan, bahkan setelah penerima mengingatkan.
  • Menguntit, mengambil, atau menyebarkan informasi pribadi, termasuk gambar tanpa izin.
  • Memberikan hukuman atau perintah dengan nada seksual kepada orang lain.
  • Mengintip orang yang sedang berganti pakaian.
  •  Membuka pakaian seseorang tanpa izin.
  • Membujuk, menjanjikan, atau mengancam orang untuk melakukan aktivitas seksual yang tidak disetujui.
  • Memaksa orang untuk melakukan aktivitas seksual atau percobaan pemerkosaan.
  • Melakukan tindakan lain yang merendahkan, menghina, atau menyerang tubuh atau fungsi reproduksi seseorang, sering kali berakar pada ketimpangan kekuasaan, gender, dan berpotensi menyebabkan penderitaan fisik dan psikologis serta mengganggu kesehatan reproduksi dan pendidikan yang aman.

Faktor Risiko Kekerasan Seksual

Perilaku kekerasan seksual dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk:

1. Faktor Individu

  • Penggunaan alkohol dan narkoba.
  • Riwayat kejahatan.
  • Kurangnya empati terhadap orang lain.
  • Sikap agresif dan penerimaan terhadap kekerasan.
  • Inisiasi seksual pada usia dini.
  • Fantasi seksual yang menekan.
  • Preferensi terhadap hubungan seksual tanpa ikatan emosional dan perilaku seksual berisiko tinggi.
  • Paparan media yang eksplisit secara seksual.
  • Sikap yang tidak menghargai perempuan.
  • Kepatuhan terhadap norma peran gender yang tradisional.
  • Pemikiran yang terlalu maskulin.
  • Perilaku yang mengarah pada bunuh diri.
  • Pernah menjadi korban pelecehan seksual sebelumnya.

2. Faktor Hubungan

930 x 180 AD PLACEMENT
  • Riwayat konflik dan kekerasan dalam keluarga.
  • Masa kecil dengan riwayat pelecehan fisik, seksual, atau emosional.
  • Dukungan emosional yang kurang dari keluarga.
  • Hubungan yang buruk antara orang tua dan anak, terutama dengan ayah.
  • Berinteraksi dengan teman sebaya yang cenderung agresif secara seksual, maskulin, dan nakal.
  • Terlibat dalam hubungan intim yang penuh dengan kekerasan atau pelecehan.

3. Faktor Sosial

  • Kemiskinan.
  • Kurangnya peluang kerja.
  • Kurangnya dukungan dari institusi seperti polisi dan sistem peradilan.
  • Toleransi sosial terhadap pelecehan seksual.
  • Kurangnya sanksi sosial terhadap pelaku pelecehan seksual.

4. Faktor Lingkungan Sosial

  • Norma masyarakat yang mendukung pelecehan seksual.
  • Norma masyarakat yang mempertahankan superioritas laki-laki dan hak-hak seksual.
  • Norma-norma yang mendukung inferioritas dan ketergantungan seksual perempuan.
  • Kelemahan dalam hukum dan kebijakan yang berkaitan dengan pelecehan seksual dan kesetaraan gender.
  • Tingginya tingkat kejahatan dan kekerasan lainnya dalam masyarakat.

Korban Kekerasan Seksual Tidak Pernah Salah

Korban kekerasan seksual tidak pernah salah, terlepas dari apa yang mereka kenakan, cara mereka bertindak, atau jenis hubungan yang mereka miliki. Pelaku kekerasan seksual selalu bertanggung jawab atas tindakannya.

930 x 180 AD PLACEMENT

Gejala yang Dialami Korban Kekerasan Seksual

Korban kekerasan seksual dapat menunjukkan berbagai gejala yang mengindikasikan dampak psikologis yang serius. Beberapa gejala yang umum terjadi meliputi:

  • Mimpi Buruk dan Gangguan Tidur: Korban sering mengalami mimpi buruk dan kesulitan tidur.
  • Perubahan Perilaku: Korban bisa menjadi sangat tertutup, mengurung diri, atau menjadi pemalu secara tiba-tiba.
  • Emosi yang Tak Terkendali: Terjadi ledakan emosi yang tidak terkendali, ditandai dengan reaksi yang berlebihan secara emosional.
  • Penggunaan Bahasa Kasar: Mungkin mulai menggunakan kata-kata kotor atau istilah yang tidak pantas.
  • Rasa Takut yang Mendalam: Merasa takut secara tiba-tiba, terutama ketika bertemu dengan orang asing.
  • Tanda-tanda Pemberontakan: Menunjukkan perilaku pemberontakan yang tidak biasa.
  • Gangguan Makan: Mengalami penurunan nafsu makan yang signifikan.
  • Pikiran untuk Bunuh Diri: Memiliki pikiran atau ide untuk melakukan bunuh diri.
  • Melamun atau Menyendiri: Sering kali terlihat melamun atau mencari kesendirian.

Mengatasi Kekerasan Seksual

Sebagai korban kekerasan seksual, menceritakan atau menjelaskan pengalaman tersebut kepada orang lain seringkali sangat sulit. Namun, penting untuk diingat bahwa mencari dukungan dari seseorang yang dapat dipercaya adalah langkah yang sangat penting.

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal mengalami kekerasan seksual, jangan ragu untuk menghubungi psikolog atau psikiater. Mereka adalah profesional yang berpengalaman dalam membantu korban mengatasi trauma dan memulihkan diri.

Mencari bantuan dari ahli psikologi atau psikiater adalah langkah bijak dalam proses pemulihan dan dapat memberikan dukungan serta bimbingan yang diperlukan untuk memulihkan kesehatan mental dan emosional.

Proses Diagnosis Kekerasan Seksual

Proses diagnosis kekerasan seksual harus dilakukan dengan sangat hati-hati, selalu mengutamakan kondisi kesehatan mental korban. Langkah awal dalam proses ini adalah meyakinkan korban untuk mengungkapkan pengalaman kontak tidak pantas yang dilakukan oleh pelaku, sehingga diagnosis dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Menurut Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Gajah Mada, dalam penanganan aspek medis kekerasan seksual, tenaga kesehatan harus bersikap suportif untuk membantu pasien mengatasi perasaan tidak berdaya yang muncul akibat kekerasan yang dialami. Berikut adalah beberapa langkah penting dalam proses diagnosis:

1. Menenangkan Pasien

  • Pemeriksaan dilakukan setelah pasien tenang.
  • Pasien berhak mendapatkan pendampingan oleh keluarga atau pendamping selama proses pemeriksaan.
  • Perawat atau bidan yang mendampingi juga berperan penting dalam memberikan dukungan mental kepada korban.

2. Persiapan Pemeriksaan

  • Pemeriksaan harus dilakukan dengan sangat hati-hati, selalu mempertimbangkan kondisi mental korban.
  • Melakukan informed consent sebelum melakukan pemeriksaan fisik. Pastikan pasien atau pendamping memahami proses, maksud, tujuan, dan risiko pemeriksaan.
  • Anamnesis dilakukan secara cermat, baik dari pendamping maupun pasien, dengan jaminan kerahasiaan dalam ruang yang privat.

3. Pemeriksaan Fisik Umum

  • Lengan atas, lengan bawah, dan tangan: Memeriksa tanda-tanda luka atau memar.
  • Muka, telinga, dan bibir: Memeriksa adanya cedera atau tanda perlawanan.
  • Kepala dan leher: Memeriksa luka, memar, atau tanda-tanda trauma lainnya.
  • Payudara: Memeriksa adanya memar atau cedera.
  • Perut: Memeriksa tanda-tanda trauma atau cedera dalam.
  • Paha dan kaki: Memeriksa luka atau memar.
  • Pinggang dan pantat: Memeriksa adanya tanda-tanda kekerasan atau cedera.

Tujuan dari pemeriksaan fisik ini adalah untuk menemukan luka atau memar yang mungkin terjadi akibat kekerasan. Selain itu, pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menemukan tanda-tanda perlawanan, seperti gigitan, cakaran, atau pukulan, yang dapat memberikan informasi penting dalam proses diagnosis dan penanganan lebih lanjut.

Dengan pendekatan yang tepat dan penuh perhatian, proses diagnosis kekerasan seksual dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh korban untuk memulai proses pemulihan.

Penanganan Kekerasan Seksual

Penanganan kekerasan seksual membutuhkan pendekatan yang hati-hati dan penuh empati untuk membantu korban mengatasi trauma yang dialami. Berikut adalah beberapa langkah penting yang dapat dilakukan:

1. Memberikan Rasa Aman

Pastikan korban merasa aman secara fisik dan emosional. Lingkungan yang aman adalah langkah pertama dalam proses pemulihan.

2. Mencegah Rasa Bersalah

Bantu korban memahami bahwa mereka tidak bersalah atas kejadian yang mereka alami. Penegasan ini penting untuk mengurangi perasaan bersalah dan membantu proses pemulihan mental.

3. Mendapatkan Bantuan Profesional

Menghubungi psikolog atau psikiater berpengalaman sangat dianjurkan. Ahli kesehatan mental dapat memberikan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi trauma dan membantu korban melalui proses penyembuhan.

Dengan langkah-langkah ini, proses pemulihan korban kekerasan seksual dapat lebih terarah dan efektif, memberikan mereka kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Pencegahan Kekerasan Seksual

Pencegahan kekerasan seksual memerlukan kerjasama dari berbagai lapisan masyarakat, baik di rumah, sekolah, lingkungan keagamaan, tempat kerja, maupun komunitas lainnya. Setiap individu memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan seksual dan menegakkan norma-norma yang menjunjung tinggi rasa hormat, keamanan, dan kesetaraan.

Faktor Protektif dalam Pencegahan Kekerasan Seksual

Untuk mengurangi risiko terjadinya kekerasan seksual, penting untuk memperkuat faktor protektif pada tingkat individu, relasional, komunitas, dan masyarakat. Beberapa faktor protektif yang dapat diupayakan antara lain:

1. Lingkungan Keluarga atau Pengasuhan

  • Membina hubungan yang hangat dan suportif di dalam keluarga.
  • Menyediakan lingkungan pengasuhan yang penuh kasih sayang.

2. Kesehatan Emosional dan Keterhubungan

  • Mendorong kesehatan mental dan emosional yang baik.
  • Membina keterhubungan sosial yang positif.

3. Penghargaan Akademis

  • Mendorong pencapaian akademis dan penghargaan atas prestasi.
  • Menyediakan dukungan pendidikan yang memadai.

4. Empati dan Kepedulian

  • Mengembangkan rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain.
  • Mendorong kesadaran akan dampak tindakan seseorang terhadap orang lain.

Langkah-Langkah Praktis untuk Melindungi Diri dari Pelecehan Seksual

Selain memperkuat faktor protektif, ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari pelaku pelecehan seksual:

1. Waspada dalam Percakapan

  • Hindari memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada orang yang baru dikenal.
  • Jauhi obrolan yang mengarah pada topik seksual.

2. Menguasai Ilmu Bela Diri

  • Pelajari dasar-dasar bela diri untuk melindungi diri sendiri.

3. Bersikap Tegas dan Percaya Diri

  • Berani untuk bersikap tegas ketika menghadapi situasi yang mencurigakan.
  • Tunjukkan sikap percaya diri dalam setiap situasi.

4. Mempersiapkan Alat Pelindung Diri

  • Bawa alat pelindung diri seperti semprotan cabai atau alat setrum sebagai langkah antisipasi.

Dengan langkah-langkah ini, kita dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual.

Dampak Kesehatan dari Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual memiliki dampak yang sangat luas terhadap kesehatan fisik dan mental korban. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), baik laki-laki maupun perempuan yang menjadi penyintas kekerasan seksual dapat mengalami berbagai masalah kesehatan mental, perilaku, dan sosial. Namun, perempuan, terutama anak perempuan dan remaja, sering kali menanggung beban yang lebih berat akibat kekerasan ini.

Dampak Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Korban perempuan sangat rentan terhadap dampak kesehatan seksual dan reproduksi yang tidak diinginkan, seperti:

  • Kehamilan: Risiko kehamilan yang tidak diinginkan akibat kekerasan seksual.
  • Aborsi yang Tidak Aman: Banyak korban yang memilih aborsi tidak aman, berisiko tinggi terhadap kesehatan mereka.
  • Infeksi Menular Seksual (IMS): Risiko lebih tinggi terkena IMS, termasuk HIV.

Dampak Terhadap Kesehatan Reproduksi

Kekerasan seksual juga bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan reproduksi, antara lain:

  • Trauma Ginekologi: Kerusakan fisik pada organ reproduksi.
  • Disfungsi Seksual: Masalah dalam fungsi seksual.
  • Fistula Traumatis: Cedera pada saluran kemih atau pencernaan yang memerlukan penanganan medis.
  • Infeksi Menular Seksual: Penyakit menular yang ditularkan melalui hubungan seksual, termasuk HIV.

Dampak Terhadap Kesehatan Mental

Kekerasan seksual sering kali meninggalkan luka mendalam pada kesehatan mental korban, di antaranya:

  • Depresi: Rasa sedih dan putus asa yang berkepanjangan.
  • Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD): Trauma psikologis yang muncul setelah kejadian kekerasan.
  • Kecemasan: Rasa cemas berlebihan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Kesulitan Tidur: Insomnia atau mimpi buruk yang mengganggu kualitas tidur.
  • Keluhan Somatik: Gejala fisik tanpa penyebab medis yang jelas.
  • Perilaku Bunuh Diri: Pemikiran atau tindakan bunuh diri.
  • Gangguan Panik: Serangan panik mendadak dan intens.

Dampak Terhadap Perilaku

Kekerasan seksual juga mempengaruhi perilaku korban, seperti:

  • Perilaku Berisiko Tinggi: Terlibat dalam hubungan seksual tanpa kondom, berganti-ganti pasangan, atau penyalahgunaan alkohol dan narkoba.
  • Risiko Kekerasan Seksual Berulang: Korban perempuan lebih rentan mengalami kekerasan seksual berikutnya, sementara laki-laki mungkin lebih berisiko melakukan pelecehan.

Dampak Fatal

Kekerasan seksual dapat berujung pada konsekuensi fatal, seperti:

  • Kematian: Akibat bunuh diri, komplikasi kehamilan, aborsi yang tidak aman, AIDS, atau pembunuhan saat pemerkosaan.
  • Pembunuhan Bayi: Anak yang lahir dari pemerkosaan sering kali menjadi korban kekerasan.

Kekerasan seksual meninggalkan dampak yang mendalam dan luas pada korban. Penting bagi kita semua untuk menyadari dan mencegah kekerasan seksual serta mendukung penyintas dalam proses pemulihan mereka.

Referensi:

  • Halodoc.com. 2023. Kekerasan Seksual: Gejala, Penyebab dan Pencegahan
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Apa itu kekerasan seksual?
  • Obstetri dan Ginekologi UGM. Prosedur Pemeriksaan Medis dan Pengumpulan Bukti Medis Kekerasan pada Perempuan.
  • National Sexual Violence Resource Center. About Sexual Assault
  • CDC. Risk and Protective Factors
  • WHO. Understanding and addressing violence against women.

930 x 180 AD PLACEMENT
930 x 180 AD PLACEMENT